PADANG PANJANG - Selain batik cetak dan batik tulis yang merupakan salah satu warisan dunia versi UNESCO yang cuma ada di Indonesia, kini Ekoprin mulai merambah dunia tekstil di tanah air dengan beragam motif yang diangkat kepermukaan yang bersumber alam lingkungan serta lingkungan bernilai estetika tinggi.
Seniman batik nasional yang juga aksesor batik Nasional dan penggagas diwiujudkankanya ekoprin di Sumbar, Widdi Yanti, menyebutkan, bila diamati secara sepintas ekoprin layaknya seperti batik biasa bernilai seni tinggi. Padahal ekoprin berbeda jauh dengan batik, baik proses pengerjaannya mau pun bahan-bahan yang digunakan.
Menurut Widdi Yanti, doseni seni kriya ISI Padangjang yang ditemui ditemui di kediamannya sanggar Canting Buana Kreatif Batik, Jalan Bangdes II RT X, 69, Padangpanjang, Sumatera Barat (29/01) menyebutkan, untuk proses pengerjaan ekoprin memaanfaatkan bagian dari tumbuh-tumbuhan alami non kimiawi. Sementara pola bahan alami dan ramah lingkungan dengan media kulit, kertas, keramik dan kayu.
Teknik membuat motif kain dari tumbuh-tumbuhan diantaranya seperti bunga, daun dan akar yang diletakkan di atas kain untuk warna dasar yang menggunakan pewarna alam seperti ait rebusan jengkol, kulit nangka atau kulit manggis, ujar Widdi Yanti lagi.
Dijelaskan, untuk proses pengerjaan ecoprin tidak terlalu sulit. Artinya cukup dengan daun daun berupa daun jati daun si kaduduak yang banyak dijumpai di hutan-hutan atau di sekitar tempat tinggal kita yang dapat dijadikan motif bernilai seni dan estetika tinggi.
Sesuai langkah dan prosedur ekoprin, mulanya kain dimordant dengan menggunakan tawas kemudian dicuci melalui proses seperti ; meletakkan bunga atau daun diatas kain. Kemudian dipukul-mukul daun yang ada diatas kain, yang dilanjutkan dengan proses kukus dimana
kain setelah dibentangdi diletakkan bunga atau daun diatas kain untuk digulung dan diikat selama lebih kurang 2 jam. Kain kemudian diangin-anginkan, diperkuat dengan fiksasi (alat pelindung) guna mengunci warna dengan tawas atau cuka hingga selesai dikerjakan, jelas Widdi Yanti lagi.
Saat ditanya sejak kapan ia merintis tektil ekoprin berenilai estetika tinggi itu, menurut Widdi Yanti, persisnya sejak tiga tahun lalu di sela-sela tugasnya menjadi asesor batik nasional bersama sejumlah dosen ISI Yogyakarta jurusan seni kriya dalam banyak kesempatan. Bahkan melalui puluhan bahkan ratusan karya ekoprin yang dihasilkannya diluar batik tulis dan cetak, ekoprin hasil penjelajahan kreativitasnya telah diperkenalkannya melalui iven pameran Seni Rupa dan Industri Keratif dalam rangka Hari Pers Nasional di Taman Budaya Padang 2018 lalu dan iven "Visual art and film exhibition ekpresion of visual various" Indonesia (ISI Padangpanjang) -- Malaysia (Unimas) November 2017 University Malaysia Serawak, Malaysia dan serta sejumlah penting lainnya ujar Widdi Yanti mengakhiri.
MHR Editor :






