SUATU kisah lama, yang penuh hikmah, datang dari kehidupan Syekh Abdul Karim, yang lebih dikenal dengan sebutan Ungku Kuniang Saruaso. Kisah ini dituturkan oleh Tuanku Salim Malin Kuniang, pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, kepada putranya, H. Ampera Salim.
Kisah tersebut terjadi pada masa Orde Lama, ketika Ungku Kuniang Saruaso masih hidup dan mengajar agama kepada murid-muridnya. Pada masa itu, hubungan antara guru dan murid bukan sekadar hubungan dalam menuntut ilmu, melainkan juga ikatan batin, yang tumbuh melalui adab, kecintaan, dan pengabdian kepada guru.
Lama tidak berjumpa, hingga pada suatu hari, Ungku Malin Kuniang Padang Magek, ingin mengunjungi gurunya, Ungku Kuniang Saruaso. Keinginan itu, disambut dengan persiapan sederhana oleh istrinya, Andeh Itam.
Andeh Itam menyiapkan satu rantang makanan. Hidangan tersebut, sediakan hendak dibawa, untuk disantap bersama sang guru dan istrinya, yang akrab dipanggil Umi. Persiapan tersebut juga, untuk anak-anak dalam keluarga kecil Ungku Kuniang Saruaso.
Sesampainya di Lima Kaum, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik bendi menuju Batusangkar, yang jaraknya juga diperkirakan sekitar empat kilometer. Dari Batusangkar, perjalanan diteruskan dengan bendi menuju Saruaso, sejauh kurang lebih enam kilometer.
Editor : Marjeni Rokcalva






